Sebelum kita membahas jawaban dari pertanyaan itu, yuk kita belajar lagi tentang apa itu rTMS dan BPD.
rTMS atau repetitive Transcranial Magnetic Stimulation adalah terapi menggunakan medan magnet yang dikirimkan langsung ke sel-sel otak. Tujuannya adalah merangsang sel-sel otak agar bisa berfungsi dengan optimal. Sama seperti terapi lainnya, efek dari rTMS tidak langsung terlihat, perlu pemberian sesi yang berulang untuk melihat efek yang permanen.
BPD atau Borderline Personality Disorder adalah gangguan yang mempengaruhi bagaimana cara individu berpikir, merasakan, dan berperilaku sehingga menyebabkan banyak aspek yang tidak stabil dalam hidupnya. Ketidakstabilan yang terjadi mencakup relasi dengan orang lain, bagaimana ia melihat dirinya sendiri, serta emosinya. Individu dengan BPD juga memiliki kecenderungan impulsif atau bertindak tanpa pikir panjang.
Gejala yang umum ditemui pada orang dengan BPD ada 4, yakni
- Impulsif
- Emosi yang tidak stabil
- Rasa kosong atau ada depressed mood
- Tindakan agresif yang impulsif
Keempat gejala tersebut dipengaruhi oleh bagian otak yang dapat dirangsang oleh rTMS, yakni DLPFC dan DMPFC.
- DLPFC atau Dorsolateral Prefrontal Cortex adalah bagian otak yang berfungsi dalam mengontrol impuls, membuat rencana, dan meregulasi emosi.
- DMPFC atau Dorsomedial Prefrontal Cortex Adalah bagian otak yang berperan dalam kemampuan individu untuk memahami apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain, mengenal diri sendiri, mengelola emosi dalam relasi dengan orang lain, serta mengelola konflik dengan orang lain.
Orang dengan BPD umumnya mengalami masalah pada bagian-bagian tersebut. Melakukan rTMS pada bagian-bagian terserbut dapat membantu untuk mengurangi gejala yang ada. Meskipun gejala berkurang, individu tetap perlu belajar bagaimana cara mengolah emosi, berinteraksi dengan orang lain, ataupun menjaga relasi dengan orang lain. Pembelajaran mengenai kemampuan-kemampuan itu diperoleh melalui psikoterapi seperti Dialectical Behavior Therapy (DBT) yang memang dirancang khusus untuk membantu orang dengan BPD untuk berfungsi di masyarakat. Salah satu masalah yang dialami oleh orang dengan BPD adalah perasaan kosong dan tidak bermakna. Psikoterapi seperti DBT menjadi sarana untuk mereka menemukan makna dalam hidupnya. Oleh sebab itu, rTMS lebih bersifat sebagai alat bantu, bukan obat utama. Melalui rTMS, orang dengan BPD dipersiapkan untuk menerima psikoterapi yang diberikan sehingga bisa menerapkan keterampilan yang diajarkan dalam hidup sehari-hari. Sama seperti terapi pada umumnya, keberhasilan tindakan juga akan bergantung pada kerjasama pasien dalam menjalani sesi rTMS maupun psikoterapi.