Media sosial memberikan ruang bagi individu untuk menampilkan berbagai aspek kehidupannya kepada publik. Namun, di tengah tekanan untuk selalu terlihat menarik, sukses, dan produktif, muncul fenomena yang dikenal sebagai identity borrowing, yaitu kecenderungan membangun citra diri yang jauh berbeda dari kondisi sebenarnya.
Fenomena ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk, mulai dari melebih-lebihkan pencapaian pribadi, menampilkan gaya hidup yang tidak sesuai dengan realitas, hingga menggunakan identitas atau karya orang lain untuk memperoleh pengakuan sosial.
Di balik perilaku tersebut seringkali terdapat kebutuhan psikologis yang belum terpenuhi, seperti kebutuhan untuk diterima, dihargai, atau merasa memiliki nilai di mata orang lain. Ketika harga diri seseorang sangat bergantung pada validasi eksternal, muncul dorongan untuk menampilkan versi diri yang dianggap lebih layak mendapatkan perhatian.
Masalahnya, semakin besar jarak antara identitas yang ditampilkan dan identitas yang sebenarnya, semakin besar pula tekanan psikologis yang dapat muncul. Individu mungkin mengalami kecemasan karena takut citra yang dibangun terbongkar, atau merasa semakin sulit menerima dirinya sendiri apa adanya.
Membangun harga diri yang sehat memerlukan penerimaan terhadap kelebihan maupun keterbatasan diri. Kehidupan yang autentik tidak selalu tampak sempurna, tetapi cenderung memberikan rasa aman dan kepuasan psikologis yang lebih berkelanjutan dibandingkan validasi yang diperoleh melalui citra yang tidak sesuai dengan kenyataan.